Cerpenku."Adhas & Anas"


Anas dan Adhas
(Karya Penulis: Dhika Dwi Saputra)



Di keheningan malam, Adhas duduk di depan rumah sambil menatap indahnya langit  malam sambil menangis. Sebaliknya Anas bersenang-senang dan bergembira dengan teman-temannya di Kafe.

Adhas dan Anas adalah saudara kembar. Tetapi sifat mereka bagaikan langit dan bumi. Adhas sifatnya pemalu, suka menyendiri di tempat yang sepi, dan sangat suka membaca buku. Di sisi lain, Anas sifatnya ceria, suka bergaul, tetapi Anas tidak suka membaca buku.

 Kedua saudara ini selalu ribut jikalau bertemu. Tetapi jika mereka ribut, pastilah Adhas yang mengalah. Menurutnya, Kakak harus mengalah dengan adiknya.Ya, memang Adhas suka mengalah, berbeda dengan adiknya . Anas tidak mau kalah dan selalu menghalaukan cara apapun demi mencapai keinginannya.

Keduanya juga tinggal di kedua tempat yang bertolak belakang.Anas tinggal di Perumahan yang isinya hanya orang-orang kaya dan rumah mewah. Sedangkan Adhas tinggal di tempat kumuh tempat tinggal para pengemis.

Namun, Adhas tetap rajin belajar demi menggapai cita-citanya yaitu menjadi seorang Dokter. Setiap hari setelah Adhas berjualan koran di lampu merah, dia selalu datang ke Perpustakaan yang ada di dekat lampu merah untuk membaca buku. Dia membacanya dengan penuh resapan dan pemahaman. Menurutnya, membaca dapat meningkatkan ilmu pengetahuan. Adhas tidak sekolah karena Ia tidak mampu membiayai sekolahnya. Serta Ibunya pun sedang sakit-sakitan.

Maklum uang Adhas selalu pas-pasan.Meskipun itu, Adhas selalu menyisihkan uang hasil berjualan untuk ia tabung. Sisanya untuk ia dan ibunya makan sehari-sari. Adhas pun selalu pergi ke Musholla dekat ia berjualan koran untuk menunaikan sholat setiap ia dengar seruan Adzan yang berkumandang. Oleh karena itu, masyarakat sini menyebut Adhas dengan sebutan “ Si Adhrij”. Artinya: Adhas si Rajin beribadah dan rajin membanting tulang. Disaat usianya yang masih  muda untuk bekerja. Usianya masih 16 tahun.

Berbeda dengan Adhas, Anas memiliki sifat boros dalam menggunakan uangnya. Anas tinggal dengan Ayahnya. Maklum Ia selalu membangkang dan selalu pergi di malam hari dan pulang di pagi hari. Karena, Anas kurang akan kasih sayang seorang Ibu, yang didapatkan oleh anak. Ia iri dengan teman-temannya yang selalu dijemput oleh seorang Ibu saat puleng sekolah.

Di saat tinggal 1 minggu menjelang ulang tahun anak kembar tersebut. Adhas berpikiran untuk menyisihkan sebagian uangnya untuk  membeli kado buat  Anas. Adhas memiliki sifat penyayang walaupun Anas selalu membulinya. Adhas bersusah payah mencari uang demi membelikan saudaranya  kado. Hasil jeri payah Adhas setelah berjuang menjualkan koran. Adhas mendapatkan uang 200 ribu.

“Alhamdullillah” Ucap Adhas sambil mengadahkan tangannya.

Adhas segera pergi ke toko perlengkapan hadiah ulang tahun.

Ia ingat Anas suka sekali dengan jam tangan. Maka Adhas membelikan jam tangan untuk Anas. Jam tangan itu berwarna hitam.

“Semoga Anas suka jam tangan ini.” Ucap Adhas di dalam hati sambil tersenyum.

  Di saat ulang tahun Anak kembar ini, Anas merayakannya dengan sangat mewah di sebuah Restaurant. Banyak balon dan kerlap-kerlip lampu. Anas mengenakan Jas Hitam dengan setelan dasi merah. Anas mengundang semua temannya, tetapi ia lupa untuk mengundang Adhas, saudara kembar kandungnya. Tepat di pukul 11:59:55. Semua menghitung.

“5,4,3,2,1” Teeeeeeeeeeeeeetttttttttttt... terompet berbunyi., Kembang api  bergelegar di langit. Hingga langit  berisi ribuan kembang api. Di malam itu Adhas pergi ke Restaurant tempat Anas merayakan ulang tahunnya. Di saat ia memberikan kado dan mengucapkan selamat kepada Anas. Tiba-tiba. Druakkkk... Kado yang diberikan Adhas, dibuang begitu saja oleh Anas. Musik berhenti. Seketika raut wajah Adhas menjadi muram, raut wajah tamu undangan menjadi  kaget. Para tamu undangan saling berbisik. “Siapa sih itu...kok dia langsung ngasih hadiah.. terus Anas buang hadiahnya... udah pakaiannya udik...jelek...tidak ada rapih-rapihnya...”.

“Anas mengapa engkau buang kado pemberianku..aku sudah susah payah membelikanmu kado.” Kata Anas dengan wajah sedih dan mata yang meneteskan airnya.

“Hai, udik mengapa kamu datang ke sini dasar tidak tahu malu ini pesta ulang tahunku...Spesial...17 tahun.......Dasar pengganggu acara orang...”Ucap Anas dengan kasar setelah itu ia mendorong Adhas hingga jatuh tersungkur.

“Sadar..Anas..aku saudaramu...mengapa kau mendorongku” Sambung Adhas.

Setelah itu Adhas pergi entah kemana dengan raut wajah kecewa. Anas lalu menyesal dan menyadari perbuatannya. Anas mengejar Adhas sambil menyerukan” Adhasss... maafkan aku...aku memang adik yang durhaka”. Adhas berhenti lalu diam.

“Adhas maafkan aku, aku telah durhaka kepadamu, maafkan akau berjanji akan tidak akan berbuat seperti itu lagi.” Ucap Anas.

“ Sudah terlambat Adhas...lebih baik aku pergi daripada mengganggu pestamu yg meriah itu” Jawab adhas dengan nada kesal.

“Adhas maafkan aku, jika kau tidak mau memaafkanku, lebih baik aku pergi.”

“Baiklah Anaas aku memaafkanmu, tetapi jangan diulang lagi yaa..”

Sejak saat itu Adhas dan Anas tinggal bersama. Ibu  dan Ayah Adhas dan Anas kini tinggal bersama. Mereka hidup bahagia.



--Selesai—

QUOTES: SEMOGA CERITA DI ATAS MEMOTIVASI ANDA UNTUK “TIDAK MELUPAKAN SAUDARA KANDUNG SETELAH SUKSES”






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Layakkah Soeharto Jadi Pahlawan Nasional?

Kelebihan dan Kekurangan Pemerintahan Orde Baru

Sejarah Politik dan Politisasi Tionghoa di Indonesia